Kasus 822.docx

Pages 6
Views 5
of 6
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Description
Kasus 8 Pasien Ny.S (20 tahun), G2P1A0, tanggal 22 Juli 2007 jam 04.45 WIB datang ke UGD RSUD dengan keluhan : hamil 9 bulan, mules-mules, ketuban sudah pecah di rumah. Diperiksa dokter jaga di UGD, kesimpulan : Pasien sudah dalam proses persalinan (inpartu). Saat itu UGD sangat sibuk; fasilitas tempat di UGD terbatas; kamar bersalin sedang penuh. Pasien menolak untuk dirujuk ke RS lain (swasta), dengan alasan biaya; pasien mengaku tidak mampu, tetapi
Transcript
  Kasus 8 Pasien Ny.S (20 tahun), G2P1A0, tanggal 22 Juli 2007 jam 04.45 WIB datang ke UGD RSUD dengan keluhan : hamil 9 bulan, mules-mules, ketuban sudah pecah di rumah. Diperiksa dokter jaga di UGD, kesimpulan : Pasien sudah dalam proses  persalinan (inpartu). Saat itu UGD sangat sibuk; fasilitas tempat di UGD terbatas; kamar bersalin sedang penuh. Pasien menolak untuk dirujuk ke RS lain (swasta), dengan alasan biaya; pasien mengaku tidak mampu, tetapi tidak memiliki surat keterangan tidak mampu seperti ASKESKIN, JAMKESMAS atau sejenisnya. Tanpa didampingi perawat, dengan dituntun suami, pasien berjalan ke Kamar bersalin, yang  berada pada jarak 30 meter dari UGD. Dalam perjalanan, pasien mendadak merasa mules hebat, jatuh terkulai dilantai, mengejang kuat sehingga bayi lahir spontan. Kebetulan saat itu lewat seorang perawat yang segera memberikan pertolongan, bayi dibersihkan mulut dan hidungnya, dan bayi segera menangis kuat. Salah seorang  perawat lain memanggil bidan jaga dari kamar bersalin, yang segera datang dan memotong tali pusat dan melahirkan placenta. Selanjutnya ibu dan bayi dibawa ke kamar bersalin, dan mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Keadaan ibu pasca melahirkan baik, jalan lahir utuh (tidak ada robekan), perdarahan berhenti. Bayi normal,bb 2800 kg, panjang badan 48 kg. Sehari sesudah melahirkan ibu dan bayi diperbolehkan pulang dalam keadaan baik. A.   Analisa kasus 1.   Ketepatan identifikasi pasien Identifikasi pasien merupakan identitas pasien yang berguna untuk memudahkan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayananya. Pada kasus tersebut sudah dapat di identifikasi dari nama, alamat, tanggal lahir,  jam masuk. Tetapi untuk nomor medical record belum ada. 2.   Peningkatan komunikasi yang efektif Dalam kasus ini tidak terdapat instruksi baik secara lisan dengan pasien dan keluarga. Karena kamar bersalin sedang penuh, seharusnya pasien di rujuk ke RS lain (swasta) tapi pasien menolak karena tidak memiliki surat keterangan tidak mampu. Tanpa didampingi perawat, pasien didampingi suaminya berjalan  ke UGD jarak 30 meter. Dalam perjalanan pasien melahirkan secara spontan. Seharusnya pasien dibawa ke ruang persalinan di dampingi perawat. 3.   Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai Pada kasus pertama klien tidak mendapatkan obat merupakan kasus persalinan spontan. Karena pada saat melahirkan keadaan ibu baik, jalan lahir utuh,  pendarahan berhenti dan kondisi bayi normal. 4.   Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat-lokasi, tepat-prosedur dan tepat-pasien. Namun pada kasus diatas tidak ada tindakan operasi. Kasus di atas tidak tepat prosedur, pada saat pasien mau melahirkan dan akan dibawa kekamar persalinan tetapi pasien tidak didampingi  perawat pada saat kekamar persalianan. 5.   Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi resiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan. Sedangkan pada kasus diatas karena tidak terdapat situasi yang jelas pada saat tindakan yang terkait dengan mengurangi resiko infeksi tidak nampak. 6.   Pengurangan risiko pasien jatuh. Karena pasien hamil 9 bulan, mules-mules dan ketuban pecah dirumah. Seharusnya pada saat kekamar persalinan pasien diantara oleh perawat menggunakan kursi roda atau bed karena pasien beresiko jatuh dan melahirkan  pada saat perjalanan kekamar persalinan. A.   Alternatif pemecahan masalah Berdasarkan kasus di atas maka lebih baik sebelum menyarankan keluarga  pasien untuk ke rumah sakit swasta karena tidak memiliki asuransi atau semacam nya. Kaji pasien terlebih dahulu, apakah kondisi pasien bisa memungkinkan pindah kerumah sakit lainnya. Dalam kasus ini, pasien pada saat datang ke UGD datang dengan keluhan : hamil 9 bulan, mules-mules, ketuban sudah pecah di rumah. Seharusnya perawat mengantarkan pasien ke kamar   persalinan yang jaraknya 30 M dari UGD dengan kursi roda atau bed karena  pasien beresiko jatuh dan melahirkan pada saat perjalanan kekamar persalinan. Jangan membiarkan pasien dengan dituntun suaminya tanpa didampingi  perawat. B.   Rekomendasi Sebaiknya dalam setiap kejadian atau kasus hendaknya kita fokus pada keselamatan dan kondisi pasien terlebih dahulu. Dan mendampingi pasien jika  pasien dalam keadaan darurat ( seperti pasien diatas ).   Kasus 7 Seorang pasien RSU mengalami patah tulang saat dilakukan pemeriksaan rutin oleh dokter muda (koas). Pihak RS mengungkapkan tulang pasien asal XXX tersebut sudah keropos akibat tumor yang menggerogotinya. Pasien bernama Halimah (57) warga Desa Pangee, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Aceh dibawa ke RSUZA pada 23 April silam. Di sana, ia dirawat di ruang Seurune 3 kamar 6. Awalnya, ia ditangani oleh dokter saraf karena berdasarkan surat rujukan  pasien mengalami penyempitan tulang belakang. Setelah diperiksa, diketahui ada tumor di dalam perut Halimah. Ia kemudian diperiksa rutin oleh seorang dokter muda seperti tensi darah dan lainnya. Kedua kaki Halimah memang sudah tidak bisa digerakkan karena penyakit yang dideritanya.Saat dilakukan pemeriksaan itulah, kaki kiri Halimah patah. Keluarga tidak terima dan melakukan protes.Menurut dr Azharuddin, pihak Rumah Sakit sudah bertemu dengan keluarga pasien dan menjelaskan penyebab patahnya kaki tersebut. Setelah dilakukan  pemeriksaan oleh tim RSUZA, ditemukan sejumlah tumor yang menggerototi tubuh Halimah, di antaranya di tulang rusuk, leher, dan paha. Tumor inilah yang menyebabkan tulang pasien keropos sehingga saat dipegang patah, jelasnya. Menurut Azharuddin, sepanjang tulang yang patah tersebut sudah digerogoti tumor. Selama dirawat, pihak RS mengobati pasien dengan menempel obat semacam koyo yang berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit. Tindakan operasi tidak dilakukan. Kita tidak melakukan operasi terhadap pasien karena kalau kita operasi tidak bisa setop  pendarahan. Makanya kita tidak lakukan operasi pada patah tulang itu, ungkap dr Azharuddin. Tindakan pemeriksaan yang dilakukan dokter muda tersebut, jelas dr Azharuddin sudah sesuai dengan prosedur. Menurutnya, dokter muda tersebut memeriksa kaki yang tidak dapat digerakkan untuk mencari tahu penyebabnya. Wajib dilakukan pemeriksaan oleh dokter. Wajib diperiksa secara menyeluruh. Kalau tidak ada apa-apa tidak patah. Ini karena sudah digerogoti tumor makanya patah,  jelasnya. B.   Analisa Kasus Berdasarkan 6 prinsip patient safety 1.   Ketepatan identifikasi pasien Identifikasi pasien merupakan identitas pasien yang berguna untuk memudahkan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayananya. Pada kasus tersebut sudah terdapat data diri atau identitas pasien. Tetapi untuk nomor medical record belum ada. 2.   Meningkatkan komunikasi yang efektif. Pada kasus diatas pada saat pemeriksaan pasien seharusnya dokter yang memeriksa berkomunikasi atau menjelaskan penyakit yang diderita pasien kepada pihak keluarga dan pasien itu sendiri, agar tidak ada kesalahpahaman.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x