57-1-98-1-10-20171113

Pages 8
Views 6
of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Description
teeeeer
Transcript
  311 Perancangan Sistem Pakar Permasalahan Siswa di Sekolah Dini Destiani Siti Fatimah 1 , Irpan Maulana 2   Jurnal Algoritma Sekolah Tinggi Teknologi Garut Jl. Mayor Syamsu No. 1 Jayaraga Garut 44151 Indonesia Email : jurnal@sttgarut.ac.id 1  dini.dsf @sttgarut.ac.id   2  1306067@sttgarut.ac.id     Abstrak    –    Seiring dengan kemajuan teknologi yang berjalan, dikembangkan pula sistem yang dapat meniru proses pemikiran dan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah yang lebih spesifik, sistem ini merupakan bagian dari kercerdasan buatan atau artifical intellenge yang sering disebut sebagai sistem pakar, salah satunya dapat kita implrmentasikan di sekolah. Persoalan dalam mengahadapi  permasalahan siswa di sekolah yang sering kali merugikan guru  –   guru maupun staf sekolah. Faktor kurangnya mengetahui cara mengatasi permasalahan siswa yang sedang menempuh  pendidikan dimana ketidaksesuaian pemberian tindakan yang pantas bagi setiap siswa denganpermasalahan yang satu dengan yang masalah lain. Perancangan sistem pakar  permasalahan siswa di sekolah ini bertujuan sebagai media untuk mempermudah proses  penyuluhan pemberian tindakan yang tepat kepada siswa yang dilakukan oleh guru bimbingan konseling atau seorang pakar. Proses perancangan ini menggunakan metode pengembangan sistem  pakar dari Durkin [1] Perancangan aplikasi menggunakan berbasis Web Php sebagai flatform  perancangan aplikasi berbasis desktop dan MySQL sebagai DBMS yang digunakan terintegrasi dalam aplikasi XAMMP. Serta kesimpulan sistem pakar ini dapat digunakan untuk kosultasi mengenai solusi yang dapat diambil dalam menangani siswa yang bermasalah.  Kata Kunci    –    Konsultasi, Solusi, Sistem Pakar, Durkin [1], Forward Chaining.   I. PENDAHULUAN  Seiring dengan kemajuan teknologi yang berjalan, dikembangkan pula sistem yang dapat meniru proses pemikiran dan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah yang lebih spesifik, sistem ini merupakan bagian dari kercerdasan buatan atau artifical intellenge  yang sering disebut sebagai sistem pakar, salah satunya dapat kita implrmentasikan di sekolah.Pasal 1 ayat 4 UU RI No.20 tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional, menyatakan bahwa peserta didik atau siswa adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri mereka melalui proses pendidikan  pada jalur dan jenjang dan jenis pendidikan tertentu.UU di atas mengamanatkan bahwa siswa merupakan bagian dari masyarakat yang masih memerlukan bimbingan baik secara emosional dalam menghadapi permasalahannya, untuk itu perlu penyelesaian terhadapmasalah siswayang dapat diberikan oleh guru, antara lain guru di sekolah MAN 1 Garut. MAN 1 Garut (Madrasah Aliyah Negri) merupakan salah satu sekolah  favorite  dikota Garut yang memiliki banyak siswa, dari sebagian siswa memiliki berbagai masalah yang di sebab  beberapa kondisi dan harus di selesaikan oleh guru BK (Bimbingan Konseling). Guru BK memiliki  peranan penting dalam memberikan bimbingan terhadap siswa, akan tetapi Guru BK yang keterbatasan waktu dalam penyampaian bimbingannya, dibuatlah pembagian tugas bimbingan terhadap permasalah siswa berdasarkan tingkat masalah yaitu : ringan, sedang, dan berat.Pembagian tugas bimbingan tersebut di serahkan kepada Guru wali kelas yang menangani permasalahn tingkat ringan, Guru BK yang menangani permasalahan tingkat sedang dan Kesiswaan yang menangani   ISSN : 2302-7339 Vol. 14 No. 2 2017 http://journals.sttgarut.ac.id   312  tingkat berat,agar keseragaman pemberian bimbingan terhadap siswa yang sesuai dengan aturan sekolah. Sistem pakar merupakan alternatif penyediaan pakar terhadap masalah yang ada, di sebabkan masih sedikitnya seorang pakar yang dapat menyelesaikan masalah tersebut.Agar bimbingan dan konseling dapat berjalan baik maka dapat digunakan sistem pakar.Sistem pakar ini dibuat memperhatikan dari metode perancangan sistem pakar yang digunakan oleh Purwanto [5] dengan  judul “Pengembangan Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Cabai”. Selama ini s istem pakar banyak digunakan untuk penanganan penyakit baik tumbuhan, maupun penyakit manusia, tetapi Sistem  pakar yang kali ini akan di implementasikan terhadap permasalahan siswa di sekolah MAN 1 Garut, dikarenakan adanya kesamaan proses menyelesaian masalah yang menghasilkan sebuah solusi atau saran yang harus lakukan. Dengan demikian penelitian perancangan sistem pakar ini berjudul “ PERANCANGAN SISTEM PAKAR PERMASALAHAN SISWA DI SEKOLAH “.   II. TINJAUANPUSTAKA   A. Sistem Pakar Sistem pakar atau  Expert Sistem merupakan bagian dari kecerdasan buatan atau  Artifical  Intellenge (AI) yang manasistem ini bekerja dengan menggunakan pengetahuan ( knowledge ), dan metode analisis yang telah didefinisikan terlebih dahulu oleh seorang pakar yang sesuai dengan  bidang keahliannya. Sistem ini dibuat untuk membantu pengambilan keputusan atau pemecahan  persoalan terhadap bidang yang lebih spesifik[3]. 1. Antar muka pengguna ( user interface ) User interface merupakan mekanisme yang digunakan pengguna dan sistem pakar untuk  berkomunikasi, pada bagian ini terjadi dialog antara program dan pemakai, yang memung- kinkan sistem menerima intruksi dan informasi ( input  ) dari pemakai, juga memberikan ( out-  put  ) kepada pemakai. 2. Basis Pengetahuan ( KnowledgeBase ) Basis pengetahuan berisi pengetahuan-pengetahuan dalam penyelesaian masalah di dalam domain tertentu [2] dapat juga dikatakan bahwa basis pengetahuan mengandung kaidah atau aturan pengetahuan untuk memecahkan masalah. 3. Akuisisi pengetahuan ( knowledge acquisition) Akuisisi pengetahuan adalah akumulasi, transfer dan transformasi keahlian dalam me- nyelesaikan masalah dari sumber pengetahuan kedalam program komputer, dalam tahap ini knowledge acquisition berusaha menyerap pengetahuan untuk selanjutnya di transfer dalam  basis pengetahuan. 4. Motorinferensi ( inference engine ) a. Forward Chaining  Metode ini merupakan cara melacak informasi yang ada serta dengan penggabungan rule sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan pelacakan ini sangat baik karena proses yang berjalan dikerjakan secara berurutan dari awal hingga ke akhir masalah. Gambar 2.1 Forward Chaining  b. Metode Penelusuran Data: Metode inferensi di atas dipengaruhi oleh metode penelusuran data, ada tiga bentuk metode penulusuran data, salah satunyaa dalah metode  Depth-firstsearch, metode ini   Jurnal Algoritma Sekolah Tinggi Teknologi Garut 313   © 2017 Jurnal STT-Garut All Right Reserved   melakukan penelusuran kaidah secara mendalam dari simpul akar bergerak menurun ke tingkat dalam yang berurutan. Gambar2.2 Diagram Alir Teknik Penelusuran  Depth FirstSearch. B. Siswa dan Permasalahan Siswa Permasalahan siswa yang terjadi di sebabkan oleh beberapa faktor, sehingga dapat menimbulkan permasalahan di lingkungan sekolah, faktor ini di sebabkan dari luar lingkungan sekolah.Salah satunya faktor lingkungan keluarga dan masysrakat berupa adanya ketidakharmonisan kehidupan dalam keluarga, misalnya kedua orang tua sering bertengkar atau terjadi perceraian.Selain itu juga ketidakharmonisan dapat terjadi antara saudara. Sedangkan  permasalahan yang datangnya dari lingkungan masyarakat, antara lain berupa pergaulan dengan teman  –   teman yang kurang menyadari upaya membangun masa depan, sehingga waktu mereka sebagian besar digunakan untuk hura  –   hura dan membuang  –   buang waktu, energi, dan kesempatan. [3]. Dalamperancangansistem pakarinipermasalahan siswa yang diambil yang terjadi di sekolah secara umum yaitu sebagai berikut: 1.   Berada di luar lingkungan madrasah selama Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung.   2.   Menggunakan Hand Phone (HP) selama Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung.   3.   Memakai gelang kalung anting, gelang kaki bagi peserta didik putra.   4.   Memakai gesper ikat pinggang bentuk dan ukuran mencolok. 5.   Memakai perhiasan/merias diri yang berlebihan bagi peserta didik putri. 6.   Terlambat masuk sekolah berturut  –   turut selama 3 hari. 7.   Bertato baik permanen ataupun tidak. 8.   Meroko di dalam atau di luar lingkungan madrasah. 9.   Mengganggu kelas lain yang sedang belajar. 10.   Meninggalkan ruang belajar atau madrasah tanpa seizin guru , guru piket. 11.   Dengan sengaja atau tidak sengaja mengotori merubah tata letak, merusak sarana /prasarana yang ada dalam ruangan / lingkungan madrasah. 12.   Bolos. 13.   Memakai jaket, switer, topi, baju bebas dan sandal selama kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar berlangsug di lingkungan madrasah. 14.   Membawa senjata tajam/api, gambar porno atau benda lain yang tidak ada hubunganya dengan keperluan alat pelajaran atau dapat mengganggu kelancaran Kegiatan Belajar Mengajar serta menimbulkan keributan. 15.   Menyimpan memiliki menggunakan dan atu menyalahgunakan serta mengedarkan minuman keras, obat-obatan terlarang/narkoba baik di lingkungan madrasah atau di luar lingkungan madrasah.   ISSN : 2302-7339 Vol. 14 No. 2 2017 http://journals.sttgarut.ac.id   314   III. METODOLOGI PENELITIAN  Metodologi penelitian yang memiliki6 tahapan aktifitas untuk mencapai tujuan serta mengacu  pada metode ESDLC dari Durkin [1].Metodologi penelitian ini hanya menggunakan 4 tahapan tersebut pada Gambar 3.1. Gambar 3.1 Metodologi ESDLC (  Expert SistemDevelopment Life Cycle) Metode penelitian menggunakan metode  Expert SistemDevelopment Life Cycle (ESDLC) dari Durkin [1].dan WorkBreakdown Structure (Dawson, 2005) untuk menggambaarkan rincian tahapan pembuatan. A. Penilaian (  Assessment ) Merupakan proses untuk menentukan kelayakan dan justifikasi atas permasalahan yang akan diambil. Setelah proyek pengembangan dianggap layak dan sesuai dengan tujuan, maka selanjutnya ditentukan fitur-fitur penting dan ruang lingkup proyek serta sumber daya yang dibutuhkan.Sumber  pengetahuan yang diperlukan diidentifikasi dan ditentukan persyaratan- persyaratan proyek. B. Akuisisisi Pengetahuan (  Knowlage Acquisition ) Merupakan proses untuk mendapatkan pengetahuan tentang permasalahan yang akan dibahas dan digunakan sebagai panduan dalam pengembangan. Pengetahuan ini digunakan untuk memberikan informasi tentang permasalahan yang menjadi bahan acuan dalam mendesain sistem  pakar. Tahap ini meliputi studi dengan diadakannya pertemuan dengan pakar untuk membahas aspek dari permasalahan. C. Desain Berdasarkan pengetahuan yang telah didapatkan dalam proses Akuisisisi pengetahuan, maka desain antarmuka maupun teknik penyelesaian masalah dapat diimplementasikan kedalam sistem pakar. Dalam tahap desain ini, seluruh struktur dan organisasi dari pengetahuan harus ditetapkan dan dapat direpresentasikan kedalam sistem.Pada tahap desain, sebuah sistem  prototype di bangun.Tujuan dari pembangunan prototype tersebut adalah untuk memberikan  pemahaman yang lebih baik atas masalah.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x